Selasa, 23 Oktober 2012

Problem based learning



A.  IKHTISAR TENTANG PROBLEM-BASED LEARNING
            Esensi PBL berupa menyuguhkan berbagai situasi bermasalah yang autentik dan bermakna kepada siswa, yang dapat berfungsi sebagai batu loncatan untuk investigasi dan penyelidikan.
Fitur-fitur Khusus PBL
            Para pengembang PBL (Cognition & Technology Group at Vanderbilt, 1990, 1996a, 1996b; Gordon et al., 2001; Krajcik et al., 2003; Slavin, Madden, Dolan, & Wasik, 1994; Torp & Sage, 1998) mendeskripsikan bahwa model instruksional ini memiliki fitur-fitur di bawah ini:
·           Pertanyaan atau masalah perangsang. Pelajaran PBL diorganisasikan di seputar situasi-situasi kehidupan nyata, yang menolak jawaban-jawaban sederhana dan mengundang solusi yang competing.
·           Focus interdipliner. Meskipun PBL dapat dipusatkan pada subjek tertentu (sains, matematika, sejarah), tetapi masalah yang diinvestigasi dipilih karena solusinya menuntut siswa untuk menggali banyak subjek.
·           Investigasi autentik. PBL mengharuskansiswa untuk melakukan investigasi autentik yang berusa menemukan solusi riil untuk masalah riil.
·           Produksi artefak dan exhibit. Pbl menuntut siswa untuk mengkonstruksikan produk dalam bentuk artefak dan exhibit yang menjelaskan atau mempresentasikan solusi mereka. Artefak dan exhibit yang nanti akan dideskripsikan, dirancang oleh siswa untuk mendemonstrasikan kepada orang lain apa yang telah mereka pelajari dan memberikan alternatif yang menyegarkan untuk makalah wajib atau ujian tradisional.
·           Kolaborasi. Kolaborasi siswa dalam PBL mendorong penyelidikan dan dialog bersama dan pengembangan keterampilan berpikir dan keterampilan sosial.
 

PBL,  dirancang terutama untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan menyelesaikan masalah, dan keterampilan intelektualnya; mempelajari peran-peran orang dewasa dengan mengalaminya melalui berbagai situasi riil atau situasi yang disimulasikan; dan menjadi pelajar yang mandiri dan otonom. Berikut ini adalah diskusi singkat tentang ketiga tujuan tersebut.

Keterampilan Berpikir dan Keterampilan Mengatasi Masalah.
PBL membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan mengatasi masalah, mempelajari peran-peran orang dewasa dan menjadi pelajar yang mandiri. Sebagian besar definisi yang ada mendeskripsikan tentang proses-proses intelektual abstrak, misalnya: Siswa bekerja dalam tim untuk mencapai tujuan belajar.
·           Berpikir adalah sebuah proses yang melibatkan operasi-operasi mental, seperti induksi, deduksi, klasifikasi, dan penalaran.
·           Berpikir adalah sebuah proses representasi secara simbolis (melalui bahasa) berbagai objek dan kejadian riil dan menggunakan representasi simbolis itu untuk menemukan prinsip-prinsip esensial objek kejadian tersebut.
·           Berpikir adalah kemampuan untuk menganalisis, mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasarkan inferensi atau judgment yang baik.

Pernyataan-pernyataan Lauren Resnick (1987b) tentang definisi dari berpikir tingkat tinggi:
·           Berpikir tingkat- tinggi bersifat non-algoritmik. Artinya, jalur tindakan tidak sepenuhnya sebelumnya.
·           Berpikir tingkat-tinggi cenderung bersifat kompleks.
·           Berpikir tingkat-tinggi sering mendapatkan multiple solution (banyak solusi), masing-masing dengan kerugian dan keuntungannya masing-masing, dan bukan sebuah solusi tunggal.
·           Berpikir tingkat-tinggi melibatkan nuanced judgment dan interpretasi.
·           Berpikir tingkat-tinggi melibatkan penerapan multiple criteria (banyak kriteria), yang kadang-kadang bertentangan satu sama lain.
·           Berpikir tingkat-tinggi sering melibatkan uncertaintiy (ketakpastian). Tidak semua yang berhubungan dengan tugas yang harus ditangani telah diketahui.
·           Berpikir tingkat-tinggi melibatkan self-regulation proses-proses berpikir.
·           Berpikir tingkat-tinggi melibatkan imposing meaning (menentukan makna), menentukan struktur dalam sesuatu yang tampak tidak beraturan.
·           Berpikir tingkat-tinggi bersifat effortful (membutuhkan banyak usaha).

Keterampilan berpikir tingkat-tinggi tidak dapat diajarkan menggunakan pendekatan-pendekatan yang dirancang untuk mengajarkan ide-ide dan keterampilan-keterampilan konkret. Akan tetapi, keterampilan dan proses berpikir tingkat-tinggi jelas dapat diajarkan, dan kebanyakan program dan kurikulum yang dikembangkan untuk maksud ini banyak menyandarkan diri pada pendekatan-pendekatan yang serupa dengan problem-based learning (PBL).

Meniru Peran Orang Dewasa.
PBL juga bermaksud membantu siswa untuk perform di berbagai situasi kehidupan nyata dan mempelajari peran-peran orang dewasa yang penting. Hubungan fitur-fitur PBL dengan kegiatan mental di luar sekolah:
·           PBL mendorong kolaborasi dan penyelesaian bersama berbagai tugas.
·           PBL memiliki elemen-elemen apprenticeship. Ia mendorong observasi dan dialog dengan pihak lain agar seorang siswa secara gradual mampu melaksanakan peran yang diobservasi.
·           PBL melibatkan mahasiswa dalam penelitian yang dipilihnya sendiri, yang memungkinkan mereka untuk menginterpretasikan dan menjelaskan berbagai fenomena dunia nyata dan untuk mengonstruksikan pemahaman mereka sendiri tentang fenomena tersebut.
Independen Learning.
Terakhir, PBL berusaha membantu siswa untuk menjadi pembelajar yang independen dan self-regulated. Dibimbing oleh guru-guru yang senantiasa member semangat dan reward ketika mereka mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri solusi untuk berbagai masalah riil, kelak siswa belajar untuk melaksanakan tugasnya secara mandiri.

Dukungan Teoretis dan Empiris
            PBL mengambil psikologi kognitif sebagai dukungan teoretisnya. Fokusnya tidak banyak pada apa yang sedang dikerjakan siswa (perilaku mereka), tetapi pada apa yang mereka pikirkan (kognisi mereka) selama mereka mengerjakannya. Untuk maksud kita, PBL akan dilacak melalui tiga arus utama pemikiran abad kedua puluh.

Dewey dan Kelas Berorientasi-Masalah
            Pandangan Dewey bahwa sekolah seharusnya menjadi laboratorium untuk pengatasan masalah kehidupan nyata menjadi penyokong filosofis untuk PBL.  Dewey dan siswa-siswanya  mengatakan bahwa pembelajaran di sekolah seharusnya purposeful (memiliki maksud yang jelas) dan tidak abstrak dan bahwa pembelajaran yang purposeful itu dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dengan memerintahkan anak-anak dalam kelompok-kelompok kecil untuk menangani proyek-proyek yang mereka minati dan mereka pilih sendiri.

Piaget, Vygotsky, dan Konstruktivisme
            Teori-teori konstruktivis tentang belajar, yang menekankan pada kebutuhan pelajar untuk menginvestigasi lingkungannya dan mengkonstruksikan pengetahuan yang secara personal berarti, memberikan dasar teoritis untuk PBL.
            Perspektif kognitif-konstruktivis, yang menjadi landasan PBL, banyak meminjam pendapat Piaget (1954-1963). Perspektif ini mengatakan, seperti yang juga dikatakan oleh Piaget, bahwa pelajar dengan umur berapapun terlibat secara aktif dalam proses mendapatkan informasi dan mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri. Bila Piaget memfokuskan pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang dilalui anak terlepas dari konteks social atau kulturalnya, Vygotsky menekankan pentingnya aspek social belajar. Vygotsky percaya bahwa interaksi social dengan orang lain memacu pengonstruksian ide-ide baru dan meningkatkan perkembangan intelektual pelajar.
            Salah satu ide kunci yang berasal dari minat Vygotsky pada aspek sosial pembelajaran adalah konsepnya tentang zone of proximal development. Zone of proximal development adalah label yang diberikan Vygotsky pada zona di antara tingkat perkembangan aktual pelajar dan tingkat perkembangan potensialnya.  Menurut Vygotsky, pelajar memiliki dua tingkat perkembangan yang berbeda: tingkat perkembangan actual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual menentukan fungsi intelektual individu saat ini dan kemampuannya untuk mempelajari sendiri hal-hal tertentu. Individu juga memiliki tingkat perkembangan potensial, yang oleh Vygotsky didefinisikan sebagai tingkat yang dapat difungsikan atau dicapai oleh individu dengan bantuan orang lain, misalnya guru, orangtua, atau teman sebayanya yang lebih maju..
            Nilai penting dari ide-ide Vygotsky bagi pendidikan kiranya cukup jelas. Belajar terjadi melalui interaksi social dengan guru dan teman sebaya. Dengan tantangan dan bantuan yang tepat dari guru dan sebaya yang lebih mampu, siswa maju ke zona of proximal development tempat pembelajaran baru terjadi.

Bruner dan Discovery Learning
            Discovery learning menekankan pada pengalaman belajar aktif yang berpusat pada anak-anak, yang anaknya menemukan ide-idenya sendiri dan mengambil maknanya sendiri. Discovery learning, sebuah model pengajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa untuk memahami struktur atau ide-ide kunci  suatu disiplin ilmu, kebutuhan akan keterlibatkan aktif siswa dalam proses belajar, dan keyakinan bahwa pembelajaran sejati terjadi melalui personal discovery (penemuan pribadi). Tujuan pendidikan bukan hanya untuk memperbesar dasar pengetahuan siswa, tetapi juga untuk menciptakan berbagai kemungkinan untuk invention (pencptaan) dan discovery (penemuan).
            PBL kontemporer juga menyandarkan diri pada konsep lain yang berasal dari Brunner, yakni idenya tentang scaffolding. Brunner mendiskripsikan scaffolding sebagai sebuah proses dari pelajar yang dibantu untuk mengatasi masalah tertentu yang berada di luar kapasitas perkembangannya dengan bantuan (scaffolding) guru atau orang yang lebih mampu. Scaffolding adalah proses bagi seorang pelajar yang dibantu guru atau orang yang lebih mampu untuk mengatasi masalah atau menguasai keterampilan yang sedikit di atas tingkat perkembangannya saat ini.
            Sebagai rangkuman, guru yang menggunakan PBL menekankan keterlibatan siswa secara aktif, orientasi yang induktif dan bukan deduktif, dan menemuan atau pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa sendiri. Alih-alih memberikan ide-ide atau teori-teori tentang dunia kepada siswa, seperti yang dilakukan guru bila menggunakan pengajaran langsung, guru menggunakan penyelidikan atau PBL yang menyodorkan berbagai pertanyaan kepada siswa dan memberikan kepada siswa kesempatan untuk sampai pad aide-ide atau teorinya sendiri. Pendekatan ini telah terbukti efektif, seperti yang dideskripsikan dalam ringkasan penelitian  untuk bab ini. Akan tetapi, seperti yang dilaporkan oleh beberapa peneliti, meskipun landasan teoris untuk PBL sangat kuat dan compelling, bukti-bukti empiris tentang efek model ini masih belum jelas benar.       

B.  MERENCANAKAN DAN MELAKSANAKAN PELAJARAN BERBASIS MASALAH
Model PBL tidak rumit, dan mudah untuk menangkap ide dasar yang terkait dengan model ini. Akan tetapi, pelakasanaan efektif model ini lebih sulit. Model ini membutuhkan banyak latihan dan mengharuskan mengambil keputusan-keputusan tertentu selama perencanaan dan pelaksanaannya.
Merencanakan PBL
Seperti pada pendeketan pengajaran interaktif  lain yang berpusat pada siswa, PBL membutuhkan upaya perencanaan yang sama banyak atau bahkan lebih. Perencanaan gurulah yang memfasilitasi perpindahan yang mulus dari satu fase ke fase lainnya. Dan memfasilitasi pencapaian tujuan intruksional yang diinginkan.
Hal-hal yang diperlukan dalam merencanakan PBL
1.      Memutuskan sasaran dan tujuan
PBL dirancang untuk membantu mencapai tujuan-tujuan seperti meningkatkan keterampilan intelektual dan investigatif, memahami peran orang dewasa, dan membantu siswa untuk menjadi pelajar yang mandiri. Sebagian pelajaran PBL mungkin dimaksudkkan untuk mencapai semua tujuan ini secara simultan. Akan tetapi kemungkinan besar adalah guru hanya menekan pada satu atau dua tujuan dalam pembelajaran tertentu. Terlepas dari apakah pelajaran itu difokuskan pada sebuah tujuan tunggal atau memiliki tujuan-tujuan yang lebih luas, penting sebelumnya memutuskan sasaran dan tujuan yang ingin dicapai sehingga mereka dapat dikomunikasikan dengan jelas kepada siswa
2.      Merancang situasi bermasalah yang tepat
PBL didasarkan pada premis bahwa situasi bermasalah yang membingungkan atau tidak jelas akan membangkitkan rasa ingin tahu siswa sehingga membuat mereka tertarik untuk menyelidiki. Sebagian pengembang PBL percaya bahwa siswa seharusnya berperan besar dalam penetapan permasalahan yang akan diteliti, karena proses ini akan membantu penciftaan rasa memiliki permasalahan itu sendiri, akan tetapi guru harus membantu siswa menyempurnakan masalah yang sudah diseleksi sebelumnya, yang diambil dari kurikulum sekolah. Situasi bermasalah yang baik harus memenuhi 5 kriteria penting. Pertama, situasi itu mesti autentik. Hal ini berarti bahwa masalahnya harus dikaitkan dengan pengalaman riil siswa dan bukan dengan prinsip-prinsip disiplin akademis tertentu.Kedua,masalah itu mestinya tidak jelas sehingga menciftakan misteri atau teka-teki. Ketiga, masalah itu seharusnya bermakna bagi siswa dan sesuai dengan perkembangan tingkat intelektualnya. Keempat, masalah ini mestinya cukup luas sehingga memberi kesempatan kepada guru untuk emmenuhi tujuan intruksionalnya, akan tetapi tetap pada batas-batas fisibel bagi pelajarannya silihat dari segi waktu, ruang, dan keterbatasan sumberdaya. Kelima, manfaat yang baik mesti mendapat manfaat dari usaha kelompok.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan ketika akan memilih situasi tertentu untuk sebuah pelajaran:
o   Memikirkan tenten sebuah situasi yang melibatkkan masalah tertentu atau tofik yang dianggap membingungkan.
o   Putuskkan apakah situasi tersebut menarik bagi kelompok siswa tertentu dan apakah situasi tersebut sesuai dengan tahap perkembangan intelektual mereka.
o   Mempertimbangkan apakah dapat mempersentasikan situasi bermasalah itu dengan cafra yang dapat dipahami oleh kelompok siswa dan menggarisbawahi aspek membinggungkkan dalam masalah ini.
o   Mempertimbangkan apakah masalah ini fisibel untuk ditangani.
3.      Mengoeganisasikan sumberdaya dan merencanakan logistik
PBL mendorong siswa untuk bekerja dengan beragam alat dan bahan, sebagian belokasi diruang kelas, sebagian lain di perpustakaan sekolah atau laboratorium. Dihampir semua kasus, guru-guru PBL-lah yang bertanggung jawab menyediakan bahan-bahan dan sumberdaya lain yang akan digunakan ileh ti-tim investigasi.
Melaksanakan PBL
Tabel sintaksis PBL
Fase
Perilaku guru
1.      Memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada siswa


2.      Mengorgasisasikan siswa untuk meneliti

3.      Membantu investigasi mandiri dan kelompok

4.      Mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit.

5.      Menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah
-          Guru membahas tujuan pembelajaran, mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistic penting dan memotivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah.
-          Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang terkait dengan permasalahannya.
-          Guru mendorong siswa untuk mendapatkkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen dan dan mencari penjelasan dan solusi.
-          Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkkan artefak-artefak yang tepat, seperti laporan, rekaman video, dan membantu mereka untuk menyampaikan kepada orang lain.
-          Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang digunakan.

Fase 1: Memberikan orientasi tentang permasalahannya kepada siswa
Pada awal pelajarab PBL, guru harus mengkomunikasikan dengan jelas maksud pelajaran. Untuk siswa yang belum pernah terlibat dalam PBL, guru harus menjelaskan proses-proses dan prosedur-prosedur model tersebut secara terperinci. Hal-hal yang perlu dielaborasi antara lain:
-          Tujuan utama pembelajaran bukan untuk mempelajari sebagian besar informasi baru tetapi untuk menginvestigasi berbagai permasalahan penting dan menjadipelajar yang mandiri.
-          Permaslahan yang diinvestigasi tidak memiliki jawaban yang yang mutlak benar.
-          Selama fase investigasi, siswa akan didorong untuk melontarkan pertanyaab dan mencari informasi.
-          Selama fase analisis dan penjelasan pelajaran, siswa disorong untuk mengeksperikan ide-idenya secara terbuka dan bebas
Fase 2: Mengorgasisasikan siswa untuk meneliti
PBL mengharuskkan guru untuj mengembangkkan keterampilan kolaborasi diantara siswa dan membantumereka untuk menginvestigasi maslah secara bersama-sama. PBL juga mengharuskan siswa untuk merencanakan tugas investigative dan pelaporannya.
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam fase ini adlah
-          Membentuk tim-tim studi
-          Perencanaan kooferatif

Fase 3: Membantu investigasi mandiri dan kelompok
Investigasi yang dilakukan secara mandiri, berpasanan atau dalam studi-studi kcil adalah inti PBL. Meskipun setiap masalah memiliki situasi investigatif yang berbeda. Kebanyakan melibatkkan proses pengumpulan data dan ekperimentasi, serta pembuatan  hipotesis, menjelaskkan dan memberi solusi.
Fase 4 : Mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit.
Fase investigative diikuti oleh pembuatan artefak dan exhibit.artefak lebih dari sekedar laporan tertulis. Artefak termasuk hal-hal seperti rekamanvideo yang memperlihatkkan situasi bermasalah dan solusi yang diusulkan. Model yang mencakup refresentasi fisik dari situasi masalah atau solusinya dan program computer serta preentasi multimedianya. Setelah artefak dikembangkkan, guru sering mengorgasisaikan exhibit untuk memamerkkan hasil karya siswa disepan umum, dapat berupa pekan ilmu tradisional taupun dalam bentuk newsletter.
Mengadaptasi PBL Untuk Siswa Yang Beragam
Kadang PBL dianggap sebagai model pembelajaran yang lebih cocok untuk siswa-siswa yang gifted dan talented. Hal itu tidak benar. Semua siswa, bagaimanapun kemampuannya dapat memperoleh manfaat PBL. Ketika menggunakan PBL untuk siswa yang memiliki disabilitas belajar atau yang kurang memiliki keterampilan untuk bekerja mandiri, guru harus berusaha mengadaptasi pelajarannya dengan berbagai macam cara, misalnnya:
-          Memberi lebih banyak arahan tentang keterampilan investigasi tertentu, caramenemukaninformasi, menarik referensi dari data yang ada dan menganalisis hipotesis-hipotesis yang ada.
-          Meluangkan lebih banyak waktu untuk menerangkkan pembelajaran PBL dan ekspektasinya atas hasil belajar
-          Meluangkan lebih banyak waktu untuk siswa disetiap fase penyelidikan mereka.
-          Menetapkkan jadwal yang lebih teliti untuk memeriksa kemajuan dan menanyakan tanggung jawab siswa atas penyelesaian tugas.

C.  MENGELOLA LINGKUNGAN BELAJAR
Seperangkat aturan dan rutinitas yang yang jelas sangat diperlukan saat guru menggunakan PBL untuk menjaga agar pelajaran berjalan dengan lancar tanpa gangguan dan untuk menangani perilaku jelek siswa dengan cepat dan tegas. Adapun cara mengelola lingkungan belajar sebagai berikut.
Menangani Situasi Multitugas
Pada kelas yang menggunakan Problem Based Learning, tugas belajar yang banyak akan diberikan dengan simultan. Beberapa murid mungkin mengerjakan subtopik yang berbeda. Tugas ini bisa dilakukan dikelas, perpustakaan dan lainnya. Agar pemberian tugas ini berjalan dengan baik, siswa harus belajar bekerja baik secara individu maupun bersama-sama. Guru yang efektif mengembangkan sistem isyarat untuk memperingatkan siswa dan untuk mendampingi siswa dari satu bentuk tuga ke bentuk yang lain. Penjelasan yang jelas dibutuhkan siswa untuk menjelaskan kepada siswa kapan siswa berdiskusi dan kapan mendengarkan penjelasan. Grafik dan jadwal papan dapat menjelaskan tugas-tugas secara spesifik dan batas waktu dengan proyek yang berbeda. Guru dapat menyusun kebiasaan dan instruksi siswa  bagaimana cara memulai dan mengakhiri aktivitas proyek setiap hari. Guru akan memonitor perkembangan setiap siswa atau keloberbedampok selama pemberian tugas berjalan.
Penyesuaian tingkat penyelesaian yang berbeda
Masalah yang sering dihadapi oleh guru adalah adanya individu atau kelompok yang menyelesaikan lebih dulu/tertinggal. Peraturan, prosedur dan kegiatan sisa waktu dibutuhkan oleh siswa yang dapat menyelesaikan tugas mereka lebih dulu. Guru biasanya menyediakan permainan yang mendidik, bahan bacaan, atau sebagian guru menjadikan siswa tersebut sebagai asisten bagi yang lain untuk membantu guru.
Adanya perbedaan waktu pengerjaan ini menimbulkan permasalahan. Biasanya guru memberikan waktu mengikuti siswa yang tertinggal dalam penyelesaian tugasnya sehingga memberikan banyak waktu luang bagi yang menyelesaikan lebih cepat. Terkadang guru memberikan kesempatan diluar jam pelajaran atau pada akhir pekan bagi kelompok yang tertinggal tetapi ini dapat menimbulkan permasalahan karena jika bekerja dalam kelompok maka mereka kesulitan menemukan waktu untuk berkumpul. Siswa yang tertinggal adalah siswa tidak dapat bekerja sendiri dan membutuhkan gutu sebagai asisten untuk menyelesaikan tugasnya.
Pemantauan dan Pengelolaan Pekerjaan Siswa
Pada pembelajaran dengan PBL, tugasnya lebih banyak dan bervariasi dengan batas pengerjaan yang berbeda pula. Ada 3 cara memantau dan mengelola tugas siswa sehingga tanggung jawab siswa terjaga dan proses pengajaran efektif.
a.    Persyaratan tugas untuk siswa harus disusun dengan jelas
b.    Pekerjaan siswa selalu dipantau dan diberi umpan balik
c.    Laporan perkembangan tugas harus dipelihara
Banyak guru mengelola tugas siswa dengan menggunakan “student project form”. Form ini dapat menggambarkan perkembangan pekerjaan siswa.
Nama Siswa:...........................................................................................................
Nama tim belajar: .................................................................................................
Nama dan Cakupan proyek: ................................................................................
Tugas-tugas khusus dan tenggat waktunya
Proyek 1...................................................................................................................
Umpan balik untuk 1.................................................................................................
Proyek 2 ...................................................................................................................
Umpan balik 2..........................................................................................................
Gambar 1: “Student Project Form”








Pengaturan Alat dan Bahan
Pembelajaran dengan PBL membutuhkan beberapa penggunaan alat dan bahan. Penggunaan alat dan bahan ini menyebabkan adanya tuntutan yang lebih besar pada pengaturan kelas karena alat dan bahan penyelidikan yang digunakan butuh dijaga. Guru yang efektif harus meningkatkan prosedur dalam mengatur, menyimpan dan menyebarkan alat dan bahan. Guru biasanya meminta bantuan siswa dalam proses ini. Siswa diharapkan dapat menjaga setiap alat yang digunakan, mendistribusi buku dan mengumpulkan dokumen di kelas.
Pengaturan gerakan dan perilaku diluar kelas
Pengaturan ini digunakan ketika guru memberikan tugas penyelidikan diluar kelas/masyarakat. Jika penyelidikan dilakukan dilaboratorium maka guru harus memberikan peraturan dan prosedur yang jelas tentang cara menggunakan alat di laboratorium dan memastikan siswa menggunakan pada fungsi yang semestinya. Jika tugas dilakukan dimasyarakat misalnya wawancara, maka guru harus memberikan petunjuk bagaimana mengurus ijin dan menjelaskan etika dalam berwawancara.


D.  PENAKSIRAN DAN EVALUASI
Secara umum pedoman dalam menilai sama dengan yang lain. Prosedur penilaian harus selalu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan yang terpenting guru mendapatkan informasi tentang penilaian yang ajeg dan valid. dalam PBL penilaiannya tidak mungkin hanya berupa tes tulis saja karena adanya banyak tugas proyek selama proses pembelajaran. Prosedur penilaian yang paling tepat untuk PBL adalah evaluasi “performance”. Penilaian “performance” ini menggunakan rubrik skor, checklist, atau rating scale, selain itu juga dapat mengukur potensi siswa untuk mengatasi masalah maupun untuk mengukur kerja kelompok.
Pengukuran Pemahaman
PBL menjangkau ke luar pengembangan pengetahuan faktual tentang sebuah topik, yaitu pengembangan pemahaman yang lengkap tentang berbagai masalah dan dunia disekitar siswa.
Penggunaan Checklist dan Rating Scale
1.    Siswa mendeskripsikan dengan jelas pertanyaannya dan memberikan alasan atas arti pentingnya

2.    bukti yang kuat akan adanya persiapan dan organisasi

3.    penyampaiannya memikat

4.    struktur kalimatnya tepat

5.    Alat bantu visual digunakan untuk meningkatkan presentasinya

6.    Pertanyaan audiens dijawab dengan jelas dan dengan informasi yang spesifik
Siswa tidak menetapkan pertanyaan



tidak ada bukti akan adanya persiapan/organisasi
penyampaiannya datar

struktur kalimatnya banyak yang keliru
Alat bantu visual tidak disebutkan


Pertanyaan audiens tidak dijawab
Siswa menetapkan pertanyaan, tetapi tidak mendeskripsikan atau memberikan alasan arti pentingnya

ada beberapa bukti akan persiapan dan organisasi

penyampaiannya agak memikat

struktur kalimatnya agak tepat

alat bantu visual dirujuk secara terpisah


Pertanyaan audiens dijawab sambil lalu
Menemukan teknik penilaian yang reliabel dan valid merupakan tantangan yang dihadapi guru pada pembelajaran PBL. Teknik penilaian yang tepat pada PBL adalah penilaian “performance”. penilaian ini banyak digunakan pada olahraga, musik dan tari.tetapi rating scale juga telah digunakan dalam menilai hasil kerja siswa. Adapun contoh bentuk rating scale”  seperti dibawah ini:









Menilai Peran dan Situasi Orang Dewasa
PBL berusaha melibatkan siswa dalam situasi yang membantu mereka untuk belajar tentang peran-peran orang dewasa dan melaksanakan beberapa tugas yang terkait dengan peran itu.
Jaksa : Memperlihatkan keterampilan berdebat dengan memainkan tokoh-tokoh dalam simulasi peristiwa bersejarah
Pegawai agen periklanan : merancang iklan kampanye, membuat sampul buku
Sosiolog: merancang dan melaksanakan survey masyarakat, hasil grafik
Guru: mengajarkan topik kepada anak yang lebih muda
Orang tua : menyuruh anaknya belajar
 







Menilai Potensi Belajar
Kebanyakan tes dirancang untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan pada titik waktu tertentu. Tes tersebut belum dapat menilai potensi belajar. Ide Vygotsky tentang zone of proximal development telah mengingatkan untuk mempertimbangkan bagaimana potensi siswa diukur, khususnya potensi yang dapat ditingkatkan dengan bimbingan guru atau teman.

Menilai Usaha Kelompok
Menilai usaha kelompok dapat mengurangi kompetensi yang menyimpang yang seringkali terjadi yaitu dengan membandingkan siswa dengan teman sebayanya. Salah satu caranya adalah dengan memberikan dua penilaian yaitu siswa- satu untuk usaha kelompok dan satu untuk kontribusi masing-masing individu.

E.  PROBLEM BASED LEARNING : SEBUAH PEMIKIRAN AKHIR
Minat pada PBL ini cukup ekstensif, model ini didasari oleh prinsip-prinsip teoritis yang solid, dan dasar penelitiannya cukup untuk mendukung penggunaannya. Selain itu tampak dari antusiasme dikalangan guru dan siswa terhadap model ini. PBL menjadi alternatif yang aktraktif bagi guru yang menjangkau lebih jauh dari luar pendekatan-pendekatan yang berpusat pada guru. Akantetapi PBL memiliki beberapa kendala yang harus diatasi agar penggunaannya semakin meluas. Struktur organisasional yangsaat ini ditemukan disekolah tidak kondusif bagi pendekatan berbasi masalah. Sebagai contoh, banyak sekolah yang tidak memiliki perpustakaan dan umberdaya teknologi yang memadai untuk mendukung aspek investigative  model ini. Selain itu, karena model ini tidak begitu sesuai dengan begitu banyaknya informasi atau pengetahuan fondasional yang harus dipelajari siswa, maka sebagian administrator dan guru tidak mendorong penggunaannya. Kendala-kendala semacam itu menyebabkan para pengkritik memprediksi bahwa nasip PBL tidak akan lebih baik dari pada metode dewey atau kurikulum hans on.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar