A. IKHTISAR TENTANG
PROBLEM-BASED LEARNING
Esensi PBL berupa menyuguhkan
berbagai situasi bermasalah yang autentik dan bermakna kepada siswa, yang dapat
berfungsi sebagai batu loncatan untuk investigasi dan penyelidikan.
Fitur-fitur Khusus PBL
Para pengembang PBL (Cognition &
Technology Group at Vanderbilt, 1990, 1996a, 1996b; Gordon et al., 2001;
Krajcik et al., 2003; Slavin, Madden, Dolan, & Wasik, 1994; Torp &
Sage, 1998) mendeskripsikan bahwa model instruksional ini memiliki fitur-fitur
di bawah ini:
·
Pertanyaan
atau masalah perangsang. Pelajaran PBL diorganisasikan di
seputar situasi-situasi kehidupan nyata, yang menolak jawaban-jawaban sederhana
dan mengundang solusi yang competing.
·
Focus
interdipliner. Meskipun PBL dapat dipusatkan pada
subjek tertentu (sains, matematika, sejarah), tetapi masalah yang diinvestigasi
dipilih karena solusinya menuntut siswa untuk menggali banyak subjek.
·
Investigasi
autentik. PBL mengharuskansiswa untuk melakukan investigasi
autentik yang berusa menemukan solusi riil untuk masalah riil.
·
Produksi artefak
dan exhibit. Pbl menuntut siswa untuk mengkonstruksikan produk dalam bentuk
artefak dan exhibit yang menjelaskan atau mempresentasikan solusi mereka.
Artefak dan exhibit yang nanti akan dideskripsikan, dirancang oleh siswa untuk
mendemonstrasikan kepada orang lain apa yang telah mereka pelajari dan
memberikan alternatif yang menyegarkan untuk makalah wajib atau ujian
tradisional.
·
Kolaborasi. Kolaborasi
siswa dalam PBL mendorong penyelidikan dan dialog bersama dan pengembangan
keterampilan berpikir dan keterampilan sosial.
PBL,
dirancang terutama untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir,
keterampilan menyelesaikan masalah, dan keterampilan intelektualnya; mempelajari
peran-peran orang dewasa dengan mengalaminya melalui berbagai situasi riil atau
situasi yang disimulasikan; dan menjadi pelajar yang mandiri dan otonom.
Berikut ini adalah diskusi singkat tentang ketiga tujuan tersebut.
Keterampilan Berpikir dan
Keterampilan Mengatasi Masalah.
PBL membantu siswa untuk mengembangkan
keterampilan berpikir dan keterampilan mengatasi masalah, mempelajari
peran-peran orang dewasa dan menjadi pelajar yang mandiri. Sebagian besar
definisi yang ada mendeskripsikan tentang proses-proses
intelektual abstrak, misalnya: Siswa bekerja dalam tim untuk mencapai
tujuan belajar.
·
Berpikir adalah
sebuah proses yang melibatkan operasi-operasi mental, seperti induksi, deduksi,
klasifikasi, dan penalaran.
·
Berpikir adalah
sebuah proses representasi secara simbolis (melalui bahasa) berbagai objek dan
kejadian riil dan menggunakan representasi simbolis itu untuk menemukan
prinsip-prinsip esensial objek kejadian tersebut.
·
Berpikir adalah
kemampuan untuk menganalisis, mengkritik, dan mencapai kesimpulan berdasarkan
inferensi atau judgment yang baik.
Pernyataan-pernyataan Lauren Resnick
(1987b) tentang definisi dari berpikir tingkat tinggi:
·
Berpikir
tingkat- tinggi bersifat non-algoritmik. Artinya, jalur tindakan tidak
sepenuhnya sebelumnya.
·
Berpikir
tingkat-tinggi cenderung bersifat kompleks.
·
Berpikir
tingkat-tinggi sering mendapatkan multiple solution (banyak solusi),
masing-masing dengan kerugian dan keuntungannya masing-masing, dan bukan sebuah
solusi tunggal.
·
Berpikir
tingkat-tinggi melibatkan nuanced judgment dan interpretasi.
·
Berpikir
tingkat-tinggi melibatkan penerapan multiple criteria (banyak kriteria), yang
kadang-kadang bertentangan satu sama lain.
·
Berpikir
tingkat-tinggi sering melibatkan uncertaintiy (ketakpastian). Tidak semua yang
berhubungan dengan tugas yang harus ditangani telah diketahui.
·
Berpikir
tingkat-tinggi melibatkan self-regulation
proses-proses berpikir.
·
Berpikir
tingkat-tinggi melibatkan imposing
meaning (menentukan makna), menentukan struktur dalam sesuatu yang tampak
tidak beraturan.
·
Berpikir
tingkat-tinggi bersifat effortful
(membutuhkan banyak usaha).
Keterampilan
berpikir tingkat-tinggi tidak dapat diajarkan menggunakan pendekatan-pendekatan
yang dirancang untuk mengajarkan ide-ide dan keterampilan-keterampilan konkret.
Akan tetapi, keterampilan dan proses berpikir tingkat-tinggi jelas dapat
diajarkan, dan kebanyakan program dan kurikulum yang dikembangkan untuk maksud
ini banyak menyandarkan diri pada pendekatan-pendekatan yang serupa dengan problem-based learning (PBL).
Meniru Peran Orang
Dewasa.
PBL juga bermaksud membantu siswa untuk perform di berbagai situasi kehidupan
nyata dan mempelajari peran-peran orang dewasa yang penting. Hubungan
fitur-fitur PBL dengan kegiatan mental di luar sekolah:
·
PBL mendorong
kolaborasi dan penyelesaian bersama berbagai tugas.
·
PBL memiliki
elemen-elemen apprenticeship. Ia
mendorong observasi dan dialog dengan pihak lain agar seorang siswa secara
gradual mampu melaksanakan peran yang diobservasi.
·
PBL melibatkan
mahasiswa dalam penelitian yang dipilihnya sendiri, yang memungkinkan mereka
untuk menginterpretasikan dan menjelaskan berbagai fenomena dunia nyata dan
untuk mengonstruksikan pemahaman mereka sendiri tentang fenomena tersebut.
Independen Learning.
Terakhir, PBL berusaha membantu siswa
untuk menjadi pembelajar yang independen dan self-regulated. Dibimbing oleh guru-guru yang senantiasa member
semangat dan reward ketika mereka
mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri solusi untuk berbagai masalah riil,
kelak siswa belajar untuk melaksanakan tugasnya secara mandiri.
Dukungan Teoretis dan
Empiris
PBL mengambil psikologi kognitif
sebagai dukungan teoretisnya. Fokusnya tidak banyak pada apa yang sedang
dikerjakan siswa (perilaku mereka), tetapi pada apa yang mereka pikirkan
(kognisi mereka) selama mereka mengerjakannya. Untuk maksud kita, PBL akan
dilacak melalui tiga arus utama pemikiran abad kedua puluh.
Dewey dan Kelas
Berorientasi-Masalah
Pandangan Dewey bahwa sekolah
seharusnya menjadi laboratorium untuk pengatasan masalah kehidupan nyata
menjadi penyokong filosofis untuk PBL.
Dewey dan siswa-siswanya
mengatakan bahwa pembelajaran di sekolah seharusnya purposeful (memiliki maksud yang jelas) dan tidak abstrak dan bahwa
pembelajaran yang purposeful itu
dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya dengan memerintahkan anak-anak dalam
kelompok-kelompok kecil untuk menangani proyek-proyek yang mereka minati dan
mereka pilih sendiri.
Piaget, Vygotsky, dan
Konstruktivisme
Teori-teori konstruktivis tentang
belajar, yang menekankan pada kebutuhan pelajar untuk menginvestigasi
lingkungannya dan mengkonstruksikan pengetahuan yang secara personal berarti,
memberikan dasar teoritis untuk PBL.
Perspektif kognitif-konstruktivis,
yang menjadi landasan PBL, banyak meminjam pendapat Piaget (1954-1963).
Perspektif ini mengatakan, seperti yang juga dikatakan oleh Piaget, bahwa
pelajar dengan umur berapapun terlibat secara aktif dalam proses mendapatkan
informasi dan mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri. Bila Piaget memfokuskan
pada tahap-tahap perkembangan intelektual yang dilalui anak terlepas dari
konteks social atau kulturalnya, Vygotsky menekankan pentingnya aspek social belajar. Vygotsky percaya
bahwa interaksi social dengan orang
lain memacu pengonstruksian ide-ide baru dan meningkatkan perkembangan
intelektual pelajar.
Salah satu ide kunci yang berasal
dari minat Vygotsky pada aspek sosial pembelajaran adalah konsepnya tentang zone of proximal development. Zone of
proximal development adalah label yang diberikan Vygotsky pada zona di antara
tingkat perkembangan aktual pelajar dan tingkat perkembangan potensialnya. Menurut Vygotsky, pelajar memiliki dua
tingkat perkembangan yang berbeda: tingkat perkembangan actual dan tingkat
perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual menentukan fungsi
intelektual individu saat ini dan kemampuannya untuk mempelajari sendiri
hal-hal tertentu. Individu juga memiliki tingkat perkembangan potensial, yang
oleh Vygotsky didefinisikan sebagai tingkat yang dapat difungsikan atau dicapai
oleh individu dengan bantuan orang lain, misalnya guru, orangtua, atau teman
sebayanya yang lebih maju..
Nilai penting dari ide-ide Vygotsky
bagi pendidikan kiranya cukup jelas. Belajar terjadi melalui interaksi social
dengan guru dan teman sebaya. Dengan tantangan dan bantuan yang tepat dari guru
dan sebaya yang lebih mampu, siswa maju ke zona of proximal development tempat
pembelajaran baru terjadi.
Bruner dan Discovery
Learning
Discovery learning menekankan pada
pengalaman belajar aktif yang berpusat pada anak-anak, yang anaknya menemukan
ide-idenya sendiri dan mengambil maknanya sendiri. Discovery learning, sebuah
model pengajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa untuk memahami
struktur atau ide-ide kunci suatu
disiplin ilmu, kebutuhan akan keterlibatkan aktif siswa dalam proses belajar, dan
keyakinan bahwa pembelajaran sejati terjadi melalui personal discovery (penemuan pribadi). Tujuan pendidikan bukan
hanya untuk memperbesar dasar pengetahuan siswa, tetapi juga untuk menciptakan
berbagai kemungkinan untuk invention
(pencptaan) dan discovery (penemuan).
PBL kontemporer juga menyandarkan
diri pada konsep lain yang berasal dari Brunner, yakni idenya tentang scaffolding. Brunner mendiskripsikan scaffolding sebagai sebuah proses dari
pelajar yang dibantu untuk mengatasi masalah tertentu yang berada di luar
kapasitas perkembangannya dengan bantuan (scaffolding) guru atau orang yang
lebih mampu. Scaffolding adalah
proses bagi seorang pelajar yang dibantu guru atau orang yang lebih mampu untuk
mengatasi masalah atau menguasai keterampilan yang sedikit di atas tingkat
perkembangannya saat ini.
Sebagai rangkuman, guru yang
menggunakan PBL menekankan keterlibatan siswa secara aktif, orientasi yang
induktif dan bukan deduktif, dan menemuan atau pengkonstruksian pengetahuan
oleh siswa sendiri. Alih-alih memberikan ide-ide atau teori-teori tentang dunia
kepada siswa, seperti yang dilakukan guru bila menggunakan pengajaran langsung,
guru menggunakan penyelidikan atau PBL yang menyodorkan berbagai pertanyaan
kepada siswa dan memberikan kepada siswa kesempatan untuk sampai pad aide-ide
atau teorinya sendiri. Pendekatan ini telah terbukti efektif, seperti yang
dideskripsikan dalam ringkasan penelitian
untuk bab ini. Akan tetapi, seperti yang dilaporkan oleh beberapa
peneliti, meskipun landasan teoris untuk PBL sangat kuat dan compelling, bukti-bukti empiris tentang
efek model ini masih belum jelas benar.
B.
MERENCANAKAN DAN MELAKSANAKAN
PELAJARAN BERBASIS MASALAH
Model PBL tidak rumit, dan mudah untuk menangkap ide
dasar yang terkait dengan model ini. Akan tetapi, pelakasanaan efektif model ini
lebih sulit. Model ini membutuhkan banyak latihan dan mengharuskan mengambil
keputusan-keputusan tertentu selama perencanaan dan pelaksanaannya.
Merencanakan
PBL
Seperti pada pendeketan
pengajaran interaktif lain yang berpusat
pada siswa, PBL membutuhkan upaya perencanaan yang sama banyak atau bahkan
lebih. Perencanaan gurulah yang memfasilitasi perpindahan yang mulus dari satu
fase ke fase lainnya. Dan memfasilitasi pencapaian tujuan intruksional yang
diinginkan.
Hal-hal yang diperlukan dalam
merencanakan PBL
1.
Memutuskan
sasaran dan tujuan
PBL dirancang untuk
membantu mencapai tujuan-tujuan seperti meningkatkan keterampilan intelektual
dan investigatif, memahami peran orang dewasa, dan membantu siswa untuk menjadi
pelajar yang mandiri. Sebagian pelajaran PBL mungkin dimaksudkkan untuk
mencapai semua tujuan ini secara simultan. Akan tetapi kemungkinan besar adalah
guru hanya menekan pada satu atau dua tujuan dalam pembelajaran tertentu.
Terlepas dari apakah pelajaran itu difokuskan pada sebuah tujuan tunggal atau
memiliki tujuan-tujuan yang lebih luas, penting sebelumnya memutuskan sasaran
dan tujuan yang ingin dicapai sehingga mereka dapat dikomunikasikan dengan
jelas kepada siswa
2.
Merancang
situasi bermasalah yang tepat
PBL didasarkan pada
premis bahwa situasi bermasalah yang membingungkan atau tidak jelas akan
membangkitkan rasa ingin tahu siswa sehingga membuat mereka tertarik untuk
menyelidiki. Sebagian pengembang PBL percaya bahwa siswa seharusnya berperan
besar dalam penetapan permasalahan yang akan diteliti, karena proses ini akan
membantu penciftaan rasa memiliki permasalahan itu sendiri, akan tetapi guru
harus membantu siswa menyempurnakan masalah yang sudah diseleksi sebelumnya,
yang diambil dari kurikulum sekolah. Situasi bermasalah yang baik harus
memenuhi 5 kriteria penting. Pertama,
situasi itu mesti autentik. Hal ini berarti bahwa masalahnya harus dikaitkan
dengan pengalaman riil siswa dan bukan dengan prinsip-prinsip disiplin akademis
tertentu.Kedua,masalah itu mestinya
tidak jelas sehingga menciftakan misteri atau teka-teki. Ketiga, masalah itu seharusnya bermakna bagi siswa dan sesuai
dengan perkembangan tingkat intelektualnya. Keempat,
masalah ini mestinya cukup luas sehingga memberi kesempatan kepada guru untuk
emmenuhi tujuan intruksionalnya, akan tetapi tetap pada batas-batas fisibel
bagi pelajarannya silihat dari segi waktu, ruang, dan keterbatasan sumberdaya. Kelima, manfaat yang baik mesti mendapat
manfaat dari usaha kelompok.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan
ketika akan memilih situasi tertentu untuk sebuah pelajaran:
o Memikirkan tenten
sebuah situasi yang melibatkkan masalah tertentu atau tofik yang dianggap
membingungkan.
o Putuskkan apakah
situasi tersebut menarik bagi kelompok siswa tertentu dan apakah situasi
tersebut sesuai dengan tahap perkembangan intelektual mereka.
o Mempertimbangkan apakah
dapat mempersentasikan situasi bermasalah itu dengan cafra yang dapat dipahami
oleh kelompok siswa dan menggarisbawahi aspek membinggungkkan dalam masalah
ini.
o Mempertimbangkan apakah
masalah ini fisibel untuk ditangani.
3.
Mengoeganisasikan
sumberdaya dan merencanakan logistik
PBL mendorong siswa
untuk bekerja dengan beragam alat dan bahan, sebagian belokasi diruang kelas,
sebagian lain di perpustakaan sekolah atau laboratorium. Dihampir semua kasus,
guru-guru PBL-lah yang bertanggung jawab menyediakan bahan-bahan dan sumberdaya
lain yang akan digunakan ileh ti-tim investigasi.
Melaksanakan PBL
Tabel sintaksis
PBL
|
Fase
|
Perilaku guru
|
|
1.
Memberikan
orientasi tentang permasalahannya kepada siswa
2.
Mengorgasisasikan
siswa untuk meneliti
3.
Membantu
investigasi mandiri dan kelompok
4.
Mengembangkan
dan mempresentasikan artefak dan exhibit.
5.
Menganalisis
dan mengevaluasi proses mengatasi masalah
|
-
Guru
membahas tujuan pembelajaran, mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistic
penting dan memotivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah.
-
Guru
membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar
yang terkait dengan permasalahannya.
-
Guru
mendorong siswa untuk mendapatkkan informasi yang tepat, melaksanakan
eksperimen dan dan mencari penjelasan dan solusi.
-
Guru
membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkkan artefak-artefak yang tepat,
seperti laporan, rekaman video, dan membantu mereka untuk menyampaikan kepada
orang lain.
-
Guru
membantu siswa untuk melakukan refleksi terhadap investigasinya dan
proses-proses yang digunakan.
|
Fase
1: Memberikan orientasi tentang
permasalahannya kepada siswa
Pada awal pelajarab PBL, guru harus
mengkomunikasikan dengan jelas maksud pelajaran. Untuk siswa yang belum pernah
terlibat dalam PBL, guru harus menjelaskan proses-proses dan prosedur-prosedur
model tersebut secara terperinci. Hal-hal yang perlu dielaborasi antara lain:
-
Tujuan
utama pembelajaran bukan untuk mempelajari sebagian besar informasi baru tetapi
untuk menginvestigasi berbagai permasalahan penting dan menjadipelajar yang
mandiri.
-
Permaslahan
yang diinvestigasi tidak memiliki jawaban yang yang mutlak benar.
-
Selama
fase investigasi, siswa akan didorong untuk melontarkan pertanyaab dan mencari
informasi.
-
Selama
fase analisis dan penjelasan pelajaran, siswa disorong untuk mengeksperikan
ide-idenya secara terbuka dan bebas
Fase 2:
Mengorgasisasikan siswa untuk meneliti
PBL
mengharuskkan guru untuj mengembangkkan keterampilan kolaborasi diantara siswa
dan membantumereka untuk menginvestigasi maslah secara bersama-sama. PBL juga
mengharuskan siswa untuk merencanakan tugas investigative dan pelaporannya.
Hal-hal
yang perlu dilakukan dalam fase ini adlah
-
Membentuk
tim-tim studi
-
Perencanaan
kooferatif
Fase 3:
Membantu investigasi mandiri dan kelompok
Investigasi yang dilakukan secara mandiri,
berpasanan atau dalam studi-studi kcil adalah inti PBL. Meskipun setiap masalah
memiliki situasi investigatif yang berbeda. Kebanyakan melibatkkan proses
pengumpulan data dan ekperimentasi, serta pembuatan hipotesis, menjelaskkan dan memberi solusi.
Fase 4
: Mengembangkan dan mempresentasikan artefak dan exhibit.
Fase
investigative diikuti oleh pembuatan artefak dan exhibit.artefak lebih dari
sekedar laporan tertulis. Artefak termasuk hal-hal seperti rekamanvideo yang
memperlihatkkan situasi bermasalah dan solusi yang diusulkan. Model yang
mencakup refresentasi fisik dari situasi masalah atau solusinya dan program
computer serta preentasi multimedianya. Setelah artefak dikembangkkan, guru
sering mengorgasisaikan exhibit untuk memamerkkan hasil karya siswa disepan
umum, dapat berupa pekan ilmu tradisional taupun dalam bentuk newsletter.
Mengadaptasi
PBL Untuk Siswa Yang Beragam
Kadang PBL
dianggap sebagai model pembelajaran yang lebih cocok untuk siswa-siswa yang
gifted dan talented. Hal itu tidak benar. Semua siswa, bagaimanapun
kemampuannya dapat memperoleh manfaat PBL. Ketika menggunakan PBL untuk siswa
yang memiliki disabilitas belajar atau yang kurang memiliki keterampilan untuk
bekerja mandiri, guru harus berusaha mengadaptasi pelajarannya dengan berbagai
macam cara, misalnnya:
-
Memberi
lebih banyak arahan tentang keterampilan investigasi tertentu, caramenemukaninformasi,
menarik referensi dari data yang ada dan menganalisis hipotesis-hipotesis yang
ada.
-
Meluangkan
lebih banyak waktu untuk menerangkkan pembelajaran PBL dan ekspektasinya atas
hasil belajar
-
Meluangkan
lebih banyak waktu untuk siswa disetiap fase penyelidikan mereka.
-
Menetapkkan
jadwal yang lebih teliti untuk memeriksa kemajuan dan menanyakan tanggung jawab
siswa atas penyelesaian tugas.
C. MENGELOLA LINGKUNGAN BELAJAR
Seperangkat aturan dan rutinitas yang yang jelas sangat
diperlukan saat guru menggunakan PBL untuk menjaga agar pelajaran berjalan
dengan lancar tanpa gangguan dan untuk menangani perilaku jelek siswa dengan
cepat dan tegas. Adapun cara mengelola lingkungan belajar sebagai berikut.
Menangani Situasi Multitugas
Pada kelas yang
menggunakan Problem Based Learning,
tugas belajar yang banyak akan diberikan dengan simultan. Beberapa murid
mungkin mengerjakan subtopik yang berbeda. Tugas ini bisa dilakukan dikelas,
perpustakaan dan lainnya. Agar pemberian tugas ini berjalan dengan baik, siswa
harus belajar bekerja baik secara individu maupun bersama-sama. Guru yang
efektif mengembangkan sistem isyarat untuk memperingatkan siswa dan untuk
mendampingi siswa dari satu bentuk tuga ke bentuk yang lain. Penjelasan yang
jelas dibutuhkan siswa untuk menjelaskan kepada siswa kapan siswa berdiskusi
dan kapan mendengarkan penjelasan. Grafik dan jadwal papan dapat menjelaskan
tugas-tugas secara spesifik dan batas waktu dengan proyek yang berbeda. Guru
dapat menyusun kebiasaan dan instruksi siswa
bagaimana cara memulai dan mengakhiri aktivitas proyek setiap hari. Guru
akan memonitor perkembangan setiap siswa atau keloberbedampok selama pemberian
tugas berjalan.
Penyesuaian tingkat penyelesaian yang berbeda
Masalah
yang sering dihadapi oleh guru adalah adanya individu atau kelompok yang
menyelesaikan lebih dulu/tertinggal. Peraturan, prosedur dan kegiatan sisa
waktu dibutuhkan oleh siswa yang dapat menyelesaikan tugas mereka lebih dulu.
Guru biasanya menyediakan permainan yang mendidik, bahan bacaan, atau sebagian
guru menjadikan siswa tersebut sebagai asisten bagi yang lain untuk membantu
guru.
Adanya
perbedaan waktu pengerjaan ini menimbulkan permasalahan. Biasanya guru
memberikan waktu mengikuti siswa yang tertinggal dalam penyelesaian tugasnya
sehingga memberikan banyak waktu luang bagi yang menyelesaikan lebih cepat.
Terkadang guru memberikan kesempatan diluar jam pelajaran atau pada akhir pekan
bagi kelompok yang tertinggal tetapi ini dapat menimbulkan permasalahan karena
jika bekerja dalam kelompok maka mereka kesulitan menemukan waktu untuk
berkumpul. Siswa yang tertinggal adalah siswa tidak dapat bekerja sendiri dan
membutuhkan gutu sebagai asisten untuk menyelesaikan tugasnya.
Pemantauan dan Pengelolaan Pekerjaan Siswa
Pada
pembelajaran dengan PBL, tugasnya lebih banyak dan bervariasi dengan batas
pengerjaan yang berbeda pula. Ada 3 cara memantau dan mengelola tugas siswa
sehingga tanggung jawab siswa terjaga dan proses pengajaran efektif.
a.
Persyaratan tugas untuk siswa harus disusun dengan jelas
b.
Pekerjaan siswa selalu dipantau dan diberi umpan balik
c.
Laporan perkembangan tugas harus dipelihara
Banyak guru mengelola tugas siswa dengan menggunakan “student project form”. Form ini dapat
menggambarkan perkembangan pekerjaan siswa.
|
Nama
Siswa:...........................................................................................................
Nama tim
belajar:
.................................................................................................
Nama dan
Cakupan proyek:
................................................................................
Tugas-tugas
khusus dan tenggat waktunya
Proyek 1...................................................................................................................
Umpan balik untuk 1.................................................................................................
Proyek 2
...................................................................................................................
Umpan balik 2..........................................................................................................
|
Pengaturan Alat dan Bahan
Pembelajaran dengan
PBL membutuhkan beberapa penggunaan alat dan bahan. Penggunaan alat dan bahan
ini menyebabkan adanya tuntutan yang lebih besar pada pengaturan kelas karena
alat dan bahan penyelidikan yang digunakan butuh dijaga. Guru yang efektif
harus meningkatkan prosedur dalam mengatur, menyimpan dan menyebarkan alat dan
bahan. Guru biasanya meminta bantuan siswa dalam proses ini. Siswa diharapkan
dapat menjaga setiap alat yang digunakan, mendistribusi buku dan mengumpulkan
dokumen di kelas.
Pengaturan gerakan dan perilaku diluar kelas
Pengaturan ini
digunakan ketika guru memberikan tugas penyelidikan diluar kelas/masyarakat.
Jika penyelidikan dilakukan dilaboratorium maka guru harus memberikan peraturan
dan prosedur yang jelas tentang cara menggunakan alat di laboratorium dan
memastikan siswa menggunakan pada fungsi yang semestinya. Jika tugas dilakukan
dimasyarakat misalnya wawancara, maka guru harus memberikan petunjuk bagaimana
mengurus ijin dan menjelaskan etika dalam berwawancara.
D. PENAKSIRAN DAN EVALUASI
Secara umum pedoman dalam menilai sama dengan yang lain.
Prosedur penilaian harus selalu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang
akan dicapai dan yang terpenting guru mendapatkan informasi tentang penilaian
yang ajeg dan valid. dalam PBL penilaiannya tidak mungkin hanya berupa tes
tulis saja karena adanya banyak tugas proyek selama proses pembelajaran.
Prosedur penilaian yang paling tepat untuk PBL adalah evaluasi “performance”. Penilaian “performance” ini menggunakan rubrik
skor, checklist, atau rating scale, selain itu juga dapat mengukur potensi
siswa untuk mengatasi masalah maupun untuk mengukur kerja kelompok.
Pengukuran Pemahaman
PBL menjangkau
ke luar pengembangan pengetahuan faktual tentang sebuah topik, yaitu
pengembangan pemahaman yang lengkap tentang berbagai masalah dan dunia
disekitar siswa.
Penggunaan Checklist dan Rating Scale
|
1.
Siswa mendeskripsikan dengan jelas pertanyaannya dan memberikan alasan
atas arti pentingnya
2.
bukti yang kuat akan adanya persiapan dan organisasi
3.
penyampaiannya memikat
4.
struktur kalimatnya tepat
5.
Alat bantu visual digunakan untuk meningkatkan presentasinya
6.
Pertanyaan audiens dijawab dengan jelas dan dengan informasi yang
spesifik
|
|
Siswa tidak menetapkan pertanyaan
tidak ada bukti akan adanya persiapan/organisasi
penyampaiannya datar
struktur kalimatnya banyak yang keliru
Alat bantu visual tidak disebutkan
Pertanyaan audiens tidak dijawab
|
|
Siswa menetapkan pertanyaan, tetapi tidak
mendeskripsikan atau memberikan alasan arti pentingnya
ada beberapa bukti akan persiapan dan organisasi
penyampaiannya agak memikat
struktur kalimatnya agak tepat
alat bantu visual dirujuk secara terpisah
Pertanyaan audiens dijawab sambil lalu
|
Menilai Peran dan Situasi Orang
Dewasa
PBL berusaha melibatkan siswa dalam situasi yang membantu
mereka untuk belajar tentang peran-peran orang dewasa dan melaksanakan beberapa
tugas yang terkait dengan peran itu.
|
Jaksa :
Memperlihatkan keterampilan berdebat dengan memainkan tokoh-tokoh dalam
simulasi peristiwa bersejarah
Pegawai agen
periklanan : merancang iklan kampanye, membuat sampul buku
Sosiolog:
merancang dan melaksanakan survey masyarakat, hasil grafik
Guru:
mengajarkan topik kepada anak yang lebih muda
Orang tua :
menyuruh anaknya belajar
|
Menilai Potensi Belajar
Kebanyakan tes
dirancang untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan pada titik waktu
tertentu. Tes tersebut belum dapat menilai potensi belajar. Ide Vygotsky
tentang zone of proximal development
telah mengingatkan untuk mempertimbangkan bagaimana potensi siswa diukur,
khususnya potensi yang dapat ditingkatkan dengan bimbingan guru atau teman.
Menilai Usaha Kelompok
Menilai usaha
kelompok dapat mengurangi kompetensi yang menyimpang yang seringkali terjadi
yaitu dengan membandingkan siswa dengan teman sebayanya. Salah satu caranya
adalah dengan memberikan dua penilaian yaitu siswa- satu untuk usaha kelompok
dan satu untuk kontribusi masing-masing individu.
E.
PROBLEM BASED LEARNING : SEBUAH
PEMIKIRAN AKHIR
Minat pada PBL
ini cukup ekstensif, model ini didasari oleh prinsip-prinsip teoritis yang
solid, dan dasar penelitiannya cukup untuk mendukung penggunaannya. Selain itu
tampak dari antusiasme dikalangan guru dan siswa terhadap model ini. PBL
menjadi alternatif yang aktraktif bagi guru yang menjangkau lebih jauh dari
luar pendekatan-pendekatan yang berpusat pada guru. Akantetapi PBL memiliki
beberapa kendala yang harus diatasi agar penggunaannya semakin meluas. Struktur
organisasional yangsaat ini ditemukan disekolah tidak kondusif bagi pendekatan
berbasi masalah. Sebagai contoh, banyak sekolah yang tidak memiliki
perpustakaan dan umberdaya teknologi yang memadai untuk mendukung aspek
investigative model ini. Selain itu,
karena model ini tidak begitu sesuai dengan begitu banyaknya informasi atau
pengetahuan fondasional yang harus dipelajari siswa, maka sebagian
administrator dan guru tidak mendorong penggunaannya. Kendala-kendala semacam
itu menyebabkan para pengkritik memprediksi bahwa nasip PBL tidak akan lebih
baik dari pada metode dewey atau kurikulum hans on.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar